Dini Hari Mendaki Merapi

7 05 2008

Sekalipun aku anak lereng Merapi, tapi naik ke daerah Merapi paling tinggi paling-paling baru sampai hutan wisata Kaliurang.

Eh, kemarin Jumat, 2 Mei, ada orang yang mengajak naik gunung. Namanya Lisa. Teman-teman sudah berpikir aku yang mengajak, eh tidak tahunya, Lisa orang Jerman. Nama lengkapnya Elisabeth Dahlem (baca: Elisabeth Dalem, tidak pakai ‘h’).

Rencananya hari Sabtu, jam 10 malam baru berangkat. Jadi Sabtu pagi, jam 10an aku menengok anak-anak yang sibuk mengurusi ME. Eh, jam 1 siang dah di-SMS suruh packing, sore hari dah harus ke Solo. Akhirnya, aku buru-buru pulang, packing, trus jam 3 berangkat ke Solo.

Kita naik Merapi dari jalur utara, melewati Selo, Boyolali, jadi anak-anak Jogja transit dulu ke Solo, di dekat ATMI.

Trus jam 10 malam berangkat ke Selo. Selo ada di ketinggian 1600m dpl, sementara puncak Merapi ada di ketinggian 3100m dpl (atau 3000m dpl ya?? Lupa..).

Sebelum mendaki, kami diingatkan untuk ‘menyatu dengan alam’:

“jangan mengambil apapun, kecuali gambar
jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak
jangan membunuh apapun, kecuali waktu”

Jam 12 malam, pendakian dimulai. Fiuh, lumayan capek, lha aku sudah ga pernah olahraga lagi. Jalannya naik terus, terjal, curam. Awalnya, jalanannya masih dari tanah; di ketinggian 2000m dpl, jalannya mulai berbatu-batu.

Jam setengah 5 pagi, anginnya kencang banget. Trus turun kabut tebal sekali, benar-benar ga bisa lihat jalan, jarak pandang kita cuma beberapa meter saja.

Setelah jalan beberapa saat, akhirnya kami sampai juga di daerah ‘pasar Brubah’ (jam 5 pagi). Lalu mendirikan tenda sambil menunggu kabut menipis. Duh, dingin banget, suhunya sampai 12,5 derajat C.

Jam 9 pagi kami naik ke puncak, biasa disebut puncak ‘Garuda’. Hmm..perjalanannya 45 menit sampai, tapi curam banget + berbatu-batu kasar. Hampir jatuh, untung ga jadi. Saat hampir setengah jalan lagi sampai puncak, belerang mulai naik, kami diingatkan teman-teman yang ada di ‘pasar Brubah’ (dari HT) untuk mempersiapkan slayer+air, untuk jaga-jaga kalau kadar belerang tinggi.

Akhirnya, sampai juga di puncak dengan selamat, belerang ga naik. Istirahat + foto-foto de ..^_^

Trus turun lagi ke ‘pasar Brubah’, hmm kabutnya tebal lagi. Duh, sampai ga bisa lihat dimana lokasi ‘pasar Brubah’, apalagi dimana tenda yang didirikan. Akhirnya semakin ke bawah, tenda semakin terlihat, yah walaupun samar-samar karena kabut. Setelah sampai tenda, packing, trus langsung menuruni Merapi. Perjalanan turun lebih cepat, 3 jam saja sudah sampai bawah (dari jam 11 samapai jam 1 siang).
Tapi benar-benar lebih berat, karena jalannya lebih licin daripada saat kami daki. Wah, sempat terpeleset berkali-kali.

Hmm,, suatu gurauan sekaligus kritikan dari kami sendiri:
Mengapa susah-susah naik gunung, bukankah setelah sampai puncak akhirnya turun lagi??
Bukankah naik gunung itu hanya membuat sengsara??

Well, apapun itu, ada ‘sesuatu’ yang dapat diambil hikmahnya dari pendakian ini.
Kalau menurutku,,

  • belajar bertahan hidup, belajar mandiri.. (Aku dah bisa sampai puncak. Walaupun aku sudah capek banget, ga lucu kan kalau aku ga mampu turun ke bawah lagi??)
  • belajar mengimplementasikan 3 bahasa sekaligus,, hehe. Maklum, Lisa kan orang Jerman, jadi aku bisa ngobrol dikit-dikit pakai bahasa Jerman (dah 4 tahun ga pakai bahasa ini). Trus bahasa Inggris, kalau dah ga bisa menerangkan dalam bahasa Indonesia, akhirnya pakai kosakata bahasa Inggris de (tentu saja lebih sering pakai bahasa Indonesia. Kalau bahasa Jawa, Lisa tahu sedikit-sedikit tapi dia bilang sulit untuk berbicara dalam bahasa Jawa..^_^)

 


Actions

Information

6 responses

27 10 2008
malam Minggu mendaki Merbabu « Elisabethkurniaw’s Weblog

[…] Trus turun menuju savana-1. Ternyata kakak yang tadi terkilir kakinya saat menuruni puncak. Akhirnya dia digendong oleh teman-teman. Setelah semua sampai savana-1, kami turun ke basecamp Selo. Kakak yang tadi dipanggilkan tim SAR. Hmm, capeeek banget. Tapi lumayan, sudah bisa turun dengan lebih baik daripada saat dulu mendaki Merapi..^_^ […]

19 12 2008
arnold

Hai, Salam Kenal
sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping , pembuatan dan penjualan tenda,
Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
thx..

10 03 2009
antara gunung Merapi dan kehidupan « Elisabethkurniaw’s Weblog

[…] aku pernah mendaki Merapi sampai puncaknya. Tiap ingat kejadian itu, aku mencoba mengingat kembali bagaimana mengumpulkan semangatku lagi, […]

24 09 2010
wulanekadalu

wah aku lagi kepingn ketemu mbak marijan. klo mbah marijanya tinggal dimananya ya?šŸ˜€

24 09 2010
elisabethkurniaw

@Wulan nDalu : mbah Marijan itu di Cangkringan (daerah di selatan Gunung Merapi)

13 08 2014
Antonius Harry Sudrajat

wooooww keren….. semakin semangat ehehee thanks ya mau berbagi pengalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: