panggung politik itu identik dengan permainan Futsal, kawan.. (just opinion)

7 03 2009

WOW,, sesuatu dalam dunia politik, yang mengusik benakku selama ini, ternyata terjadi juga dalam permainan futsal..
Mungkin teman-teman ada yang pernah mendengarnya : ‘Dalam dunia politik, tidak ada kawan ataupun lawan, yang ada hanya politik itu sendiri’

Lawan tanding, yang tahun kemarin menjadi lawan yang paling mengerikan (menurutku lho..) tahun ini menjadi bagian dari team futsal.
Wuih, lawan yang sangat berat. Bagaimana tidak : permainan keras, dengan full body contact.
Karena permainan yang terlalu menegangkan, sempat membuat drop para pemain (teman-temanku): ga konsentrasi saat menerima operan bola.
Wuih, permainan dengan extra power. Tendangan keras yang cukup membahayakan.
Bahkan aku yang menonton dari pinggir lapangan saja sampai tanpa sengaja mendapat operan tendangan keras dari lawan (untung ga kena langsung ke aku, cuma bolanya tiba-tiba dah ada di dekatku)
Pertandingan yang membahayakan penonton (untung tahun ini penonton dah aman, karena permainan futsalnya dah di lapangan futsal~ada jaringnya, ga seperti tahun lalu~di lapangan basket. Salut untuk panitianya ^_^)

Dug, permainan berakhir draw.
Dalam permainan yang menegangkan, apalagi draw seperti, aku benar-benar tidak bisa berdecak sedikitpun.
Bahkan untuk sekedar bertepuk tangan saat sempat unggul.
Aku hanya bisa terdiam dan harap-harap cemas, karena selama peluit panjang belum dibunyikan,,itu artinya PERJUANGAN BELUM BERAKHIR..

Akhirnya adu penalti.
Oh my GOD, ternyata menang di adu penalti.
Fiuh, dah bisa bernafas lega de..^_^ (ini adalah cerita singkat salah satu babak pertandingan futsal tahun kemarin..kalo ga salah saat semi final.. Trus finalnya menang)

Nah, untuk tahun ini..ya itu tadi tahun kemarin lawan, tahun ini kawan.. (dan akhirnya menang lagi di babak final)

Tulisan ini murni menyoroti dunia politik hanya sebatas pada kalimat ‘Dalam dunia politik, tidak ada kawan ataupun lawan, yang ada hanya politik itu sendiri’.
Belum sampai pada benar atau tidaknya kalimat tersebut.

Cerita pada tulisan ini lebih cenderung ke dunia futsal.
Bagaimana halnya yang terjadi dalam dunia politik??
Waduh, saya masih terlalu awam untuk dunia yang satu itu. Tapi bukan berarti saya tidak tahu tentang politik lho..
Karena saya juga terlibat dalam politik. Politik yang saya geluti di sini masih dalam artian organisasi, maupun menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia; belum sampai terjun ke ormas (organisasi masyarakat) maupun parpol (partai politik).
Hanya saja, saya merasa belum waktunya untuk membahas dunia politik dalam tulisan saya kali ini.
Mungkin suatu hari nanti akan saya tulis..

Lalu tentang diksi (pemilihan kata) untuk judul ini:
Kata ‘panggung’ bukan saya tujukan untuk artian tempat sandiwara / kepura-puraan.
Kata ‘panggung’ di sini saya tujukan untuk artian sesuatu yang mendapat sorotan lebih (dan memang perlu untuk disoroti).
Kata ‘identik’ saya pilih karena itulah kata yang mengalir dalam benak saya untuk membuat judul tulisan ini.
Entah kenapa bukan kata yang lain yang berlari-lari di pikiran saya, misalnya : seumpama / seperti / analogi.

Well,, tulisan ini masih sekedar opini seorang anak manusia dalam masa mudanya (masa-masa pencarian jati dirinya).
NO OFFENSE..^_^v





hadiah natal tahun ini : 1000 pohon

25 12 2008

Pagi ini Pakem hujan deras, misa Natal pagi, misa Natal untuk anak-anak, jam 7 aku ga berangkat. Semalam dah misa.
Aku ke gereja baru jam 08.30, membantu Sahanku membagi-bagikan pohon untuk anak-anak.

Yuup, Natal kali ini, salah satu hadiahnya adalah 1000 pohon.
Sahanku yang memintakan 1000 pohon ini dari kabupaten untuk gereja. Ups, lebih tepatnya bukan “memintakan”, tapi “memberi tahukan kepada kabupaten bahwa ada pihak yang memerlukan pohon-pohon tersebut”. Thx fur my Sahan..^_^

Pohon ini terdiri dari tanaman Jati, Petai dan Mahoni. Ini untuk ditanam di daerah Ponggol dan Sumberan. Suatu daerah di daerah yang lebih atas dari rumahku. Tujuannya untuk menampung air. Maklum, aku tinggal di daerah resapan primer.

Pohon yang lain, adalah tanaman buah : durian, kelengkeng, mangga, dan rambutan. Pohon ini dibagikan untuk anak-anak. Tujuannya untuk mengajarkan mereka mencintai alam sejak dini. Ups, aku lebih suka memakai kata “sharing pengetahuan” daripada kata “mengajarkan”. Kalau kata “mengajarkan” tu menurutku terkesan kita tu dah expert banget, senior. Padahal kan kalau kita melihat ulang ke dalam, bukankah kita juga masih perlu banyak belajar lagi??

Yuup,, walaupun sepintas hadiah ini hanya untuk orang-orang Pakem, jika kita lihat lebih jauh lagi..ini adalah hadiah Natal untuk orang-orang se-Yogyakarta…^_^

Thx banget untuk Bimo und Pandu, dua orang temanku yang merelakan diri kuajak untuk membagi-bagikan pohon untuk anak-anak. Maklum, kerja sosial..^_^