malam Minggu mendaki Merbabu

18 08 2008

Sabtu pagi  (16 Agustus 2008) ke kampus, presentasi KSP ke MaBa 2008. Hmm, baru kali ini aku merasa menjadi orang yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak, saat aku presentasi, eh malah ditinggal tidur oleh adik-adik MaBa. Duh, merasa menambah kelelapan tidur mereka saja. Hehehe.

Tapi ya aku maklum saja, bukankah mereka sudah kecapekan..^_^
Sebelum presentasi, semua bahan sudah dipersiapkan dengan lumayan matang. Saat akan presentasi, malah ada sedikit kejadian yang membuat presentasi kekurangan bahan. Well, persiapan yang baik belum tentu pelaksanaannya juga baik ^_^

Terima kasih kepada teman-teman KSL yang sudah berkenan untuk maju, presentasi lebih dulu, saat saya masih mondar-mandir naik turun lift..hehehe..

Pulang presentasi, langsung cari makanan kecil (biskuit, coklat, dan kue-kue) + packing persiapan mendaki Merbabu. Hmm, sejak awal, aku dah berpikir bahwa ini pendakian terakhirku; karena jika melihat jadwal kuliah (PP, KP, KKN) sepertinya belum tahu kapan ada jeda waktu untuk naik gunung lagi.. Sebenarnya aku juga sudah ill-feel mampu sampai puncak atau tidak, karena suasana hati yang sedang tidak karuan.. Karena sudah janjian dengan teman-teman JSN (Jakarta, Bandung, Tangerang, Solo, Yogyakarta) akhirnya saya memantapkan hati untuk mendaki Merbabu..^_^

Jam 14 kumpul di Akper Panti Rapih, lalu berangkat ke Terminal Jombor untuk bertemu dengan teman-teman JSN Jogja yang lain. Lalu naik bis dari terminal Jombor menuju Blabak, Sawangan. Trus naik angkot menuju pasar Selo, Boyolali. Sampai pasar jam 18, kami sudah ditunggu oleh teman-teman JSN yang lain.

Kami naik ke basecamp Merbabu. Wuih, perjalanan dari pasar ke basecamp benar-benar melelahkan, jalannya ada yang beraspal, ada yang masih tanah,, yang jelas naiiiiik terus. Sebelum sampai basecamp, ada warung kecil, kami istirahat sebentar, makan nasi + pembagian kelompok. Semua peserta kira-kira 40an orang, dibagi 4 kelompok agar lebih mudah mendakinya.

Aku dapat kelompok pertama. Kami naik jam 20. Sampai di savana-1 jam 2 pagi. Selama perjalanan aku belajar apa itu yang disebut ‘Rantai Kelompok’, maksudnya, kekuatan kelompok itu berada pada anggota kelompok yang paling lemah; usahakan agar anggota terlemah ini setidaknya jangan patah arang. Yuup, jadi ada seorang teman, cewek, anak JSN Jakarta yang baru pertama kali naik gunung. Dia mempunyai penyakit asma, tapi memberanikan diri untuk menantang mentalnya untuk mendaki Merbabu.. Salut banget aku ma kakak ini..^_^

Jalannyada naiiikkk terus (namanya juga gunung), terbuat dari tanah. Debunya banyak banget, jadi harus pakai slayer. Fiuh, sebelum sampai savana-1, jalannya hampir mencapai kemiringan 90 derajat busur. Naiknya sambil merangkak-rangkak.

Sesudah sampai di savana-1, kami menghubungi teman-teman JSN Solo yang sudah naik terlebih dahulu melalui HT(ada 10an yang naik pada siang hari). Awalnya tidak ada jawaban sama sekali. Di savana-1 ini dingin banget + anginnya kencang banget.
Saat kakak yang dari Jakarta tadi sampai di savana-1 (kira-kira 5 menit setelah saya sampai), tiba-tiba asmanya kambuh, dia langsung terjatuh. Duh, suasananya sempat tegang gitu. Anak-anak yang duluan naik tidak berhasil ditemukan. Akhirnya segera mendirikan tenda di savana-1 untuk menghangatkan kakak tadi.

Ternyata, teman-teman yang naik duluan tadi siang tu mendirikan tenda di savana-2, di tempat yang lebih tinggi daripada savana-1; tetapi di sana anginnya lebih sedikit karena lebih banyak pohon.

Brrrr,, dingin banget. Masuk ke tenda dari jam 3 pagi. Jam 5 dah bangun, tapi malas keluar : dingin banget + anginnya kencang banget. Jam 6 baru berani keluar tenda, menikmati angin savana-1. Jam 8 naik ke puncak, untuk sampai puncak kami melewati sebuah bukit terlebih dahulu. Walaupun capek, tapi asyik  banget karena banyak teman + bisa menikmati keindahan bunga edelweis saat di atas savana-2…^_^

Sampai puncak, tentu saja foto-foto..hehe.. ;P

Trus turun menuju savana-1. Ternyata kakak yang tadi terkilir kakinya saat menuruni puncak. Akhirnya dia digendong oleh teman-teman. Setelah semua sampai savana-1, kami turun ke basecamp Selo. Kakak yang tadi dipanggilkan tim SAR.
Hmm, capeeek banget. Tapi lumayan, sudah bisa turun dengan lebih baik daripada saat dulu mendaki Merapi..^_^

Tapi, aku tetap penasaran : dari dulu sukses naik tapi kok ga sukses turun ya?? hehehe (turunnya sudah kecapekan..jadi pelan-pelan,,biar lambat asal sampai,,hehehe)
Sampai basecamp istirahat + mandi. Trus langsung jalan kaki ke pasar Selo untuk pulang ke Jogja.

Hmm,, hal yang paling kusuka saat mendaki gunung adalah saat aku teringat akan bagaimana harus selalu mempunyai semangat. Saat di gunung, jika tidak ada semangat, bagiku sama halnya dengan mati. Saat naik harus semangat, ga lucu kan kalo nyerah di jalan sebelum sampai tujuan. Saat turun, tetap harus semangat; ga lucu kan sampai puncak kok ga bisa turun lagi..(kecuali Soe Hoe Gie).

Yah, semoga setelah mendaki Merbabu ini, aku bisa hidup yang lebih baik lagi..^_^





Dini Hari Mendaki Merapi

7 05 2008

Sekalipun aku anak lereng Merapi, tapi naik ke daerah Merapi paling tinggi paling-paling baru sampai hutan wisata Kaliurang.

Eh, kemarin Jumat, 2 Mei, ada orang yang mengajak naik gunung. Namanya Lisa. Teman-teman sudah berpikir aku yang mengajak, eh tidak tahunya, Lisa orang Jerman. Nama lengkapnya Elisabeth Dahlem (baca: Elisabeth Dalem, tidak pakai ‘h’).

Rencananya hari Sabtu, jam 10 malam baru berangkat. Jadi Sabtu pagi, jam 10an aku menengok anak-anak yang sibuk mengurusi ME. Eh, jam 1 siang dah di-SMS suruh packing, sore hari dah harus ke Solo. Akhirnya, aku buru-buru pulang, packing, trus jam 3 berangkat ke Solo.

Kita naik Merapi dari jalur utara, melewati Selo, Boyolali, jadi anak-anak Jogja transit dulu ke Solo, di dekat ATMI.

Trus jam 10 malam berangkat ke Selo. Selo ada di ketinggian 1600m dpl, sementara puncak Merapi ada di ketinggian 3100m dpl (atau 3000m dpl ya?? Lupa..).

Sebelum mendaki, kami diingatkan untuk ‘menyatu dengan alam’:

“jangan mengambil apapun, kecuali gambar
jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak
jangan membunuh apapun, kecuali waktu”

Jam 12 malam, pendakian dimulai. Fiuh, lumayan capek, lha aku sudah ga pernah olahraga lagi. Jalannya naik terus, terjal, curam. Awalnya, jalanannya masih dari tanah; di ketinggian 2000m dpl, jalannya mulai berbatu-batu.

Jam setengah 5 pagi, anginnya kencang banget. Trus turun kabut tebal sekali, benar-benar ga bisa lihat jalan, jarak pandang kita cuma beberapa meter saja.

Setelah jalan beberapa saat, akhirnya kami sampai juga di daerah ‘pasar Brubah’ (jam 5 pagi). Lalu mendirikan tenda sambil menunggu kabut menipis. Duh, dingin banget, suhunya sampai 12,5 derajat C.

Jam 9 pagi kami naik ke puncak, biasa disebut puncak ‘Garuda’. Hmm..perjalanannya 45 menit sampai, tapi curam banget + berbatu-batu kasar. Hampir jatuh, untung ga jadi. Saat hampir setengah jalan lagi sampai puncak, belerang mulai naik, kami diingatkan teman-teman yang ada di ‘pasar Brubah’ (dari HT) untuk mempersiapkan slayer+air, untuk jaga-jaga kalau kadar belerang tinggi.

Akhirnya, sampai juga di puncak dengan selamat, belerang ga naik. Istirahat + foto-foto de ..^_^

Trus turun lagi ke ‘pasar Brubah’, hmm kabutnya tebal lagi. Duh, sampai ga bisa lihat dimana lokasi ‘pasar Brubah’, apalagi dimana tenda yang didirikan. Akhirnya semakin ke bawah, tenda semakin terlihat, yah walaupun samar-samar karena kabut. Setelah sampai tenda, packing, trus langsung menuruni Merapi. Perjalanan turun lebih cepat, 3 jam saja sudah sampai bawah (dari jam 11 samapai jam 1 siang).
Tapi benar-benar lebih berat, karena jalannya lebih licin daripada saat kami daki. Wah, sempat terpeleset berkali-kali.

Hmm,, suatu gurauan sekaligus kritikan dari kami sendiri:
Mengapa susah-susah naik gunung, bukankah setelah sampai puncak akhirnya turun lagi??
Bukankah naik gunung itu hanya membuat sengsara??

Well, apapun itu, ada ’sesuatu’ yang dapat diambil hikmahnya dari pendakian ini.
Kalau menurutku,,

  • belajar bertahan hidup, belajar mandiri.. (Aku dah bisa sampai puncak. Walaupun aku sudah capek banget, ga lucu kan kalau aku ga mampu turun ke bawah lagi??)
  • belajar mengimplementasikan 3 bahasa sekaligus,, hehe. Maklum, Lisa kan orang Jerman, jadi aku bisa ngobrol dikit-dikit pakai bahasa Jerman (dah 4 tahun ga pakai bahasa ini). Trus bahasa Inggris, kalau dah ga bisa menerangkan dalam bahasa Indonesia, akhirnya pakai kosakata bahasa Inggris de (tentu saja lebih sering pakai bahasa Indonesia. Kalau bahasa Jawa, Lisa tahu sedikit-sedikit tapi dia bilang sulit untuk berbicara dalam bahasa Jawa..^_^)