Cerita Minak Djinggo

8 06 2010

Cerita ini berawal dari mas Nawan yang menawarkan kepada saya untuk ikut casting main kethoprak. Saya bertanya ceritanya tentang apa, dan beliau menjawab tentang Minak Djinggo. Akhirnya karena saya sudah lupa dengan cerita kethoprak yang pernah saya tonton saat saya masih kecil tersebut, saya berusaha mencari tahu ceritanya. Yang ada dalam ingatan saya hanya dua : Bupati Blambangan itu wajahnya JELEK banget dan yang namanya Minak Djinggo itu rambutnya acak-acakan dan agak gondrong dengan wajah yang ga cakep tapi ya ga buruk-buruk amat kok.. Kalau tidak salah yang main saat itu PS Bayu po ya ??? (dah lupa je)..

Narasumber dari cerita ini adalah R.Ng Theresia Sri Katidjah (lebih dikenal sebagai Eyang Pudjodewo), beliau adalah keturunan ke-13 dari Sultan Seda Tegal Arum. Sultan Seda Tegalarum adalah salah satu putra dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Menurut R.Ng Theresia Sri Katidjah, cerita tentang Minak Djinggo merupakan salah satu cerita rakyat (folk tale, rakyat kebanyakan sudah mengetahuinya). Beliau mengatakan bahwa memang benar dulu pernah ada sosok yang bernama Minak Djinggo. Akan tetapi R.Ng Theresia Sri Katidjah belum tahu cerita Minak Djinggo yang sesungguhnya.

Lumayan lah, untuk menambah list searching teman-teman dengan keywordCerita Minak Djinggo” 

Cerita Minak Djinggo

Kabupaten Blambangan, salah satu kabupaten di daerah Majapahit dikuasai oleh seorang buto bernama Kebo Ijo. Raja Kerajaan Majapahit pada saat itu, Brawijaya VII akhirnya membuat sayembara : barang siapa yang dapat mengalahkan Kebo Ijo, akan dinikahkan dengan puteri raja yang cantik jelita bernama Ratu Ayu.

Ada seorang pemuda berparas tampan yang bernama Raden Umbaran, putra dari Begawan Pamengger. Dia mengikuti sayembara ini. Atas saran ayahnya, Raden Umbaran mendatangi Kabupaten Blambangan dan ngenger (bekerja menjadi pembantu/ pesuruh tanpa digaji) kepada Kebo Ijo. Semakin lama, Raden Umbaran semakin mengetahui kelemahan Kebo Ijo. Pada suatu hari, Raden Umbaran melawan Kebo Ijo. Dia diinjak-injak oleh Kebo Ijo. Parasnya yang rupawan menjadi hancur berantakan, akan tetapi dia akhirnya menang karena aji-aji (kekuatan agar sakti) yang didapat dari ayahnya. Senjata sakti  milik Kebo Ijo, Gadha Wesi Kuning, kini berpindah tangan menjadi milik Raden Umbaran.

Raden Umbaran kembali ke Kerajaan Majapahit untuk menagih janji untuk menikah dengan Ratu Ayu. Namun, Ratu Ayu tidak mau menikah dengan Raden Umbaran karena Raden Umbaran buruk rupa. Raden Umbaran kembali ke Blambangan untuk menggantikan tahta Kebo Ijo yang sudah dikalahkannya. Ia berganti nama menjadi Minak Djinggo. Ia melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Majapahit karena sakit hati atas ingkar janji tersebut.

Ratu Ayu naik tahta menggantikan ayahnya. Dia mengadakan sayembara : barang siapa yang dapat mengalahkan Minak Djinggo, akan menikah dengan dirinya. Ranggalawe, seorang Bupati dari Tuban mengikuti sayembara itu. Ranggalawe kalah, dia meninggal dunia dengan meninggalkan seorang permaisuri yang cantik dan beberapa selirnya.

Ratu Ayu mempunyai seorang patih bernama Patih Logendher. Patih Logendher adalah adik dari Patih Mandara yang menjabat pada masa Brawijaya VII. Patih Logendher mempunyai 3 (tiga) orang putra, 2 orang putra tampan yaitu Seto dan Kumithir, serta seorang putri cantik bernama Anjasmara.

Ada seorang pemuda tampan bernama Dhamar Wulan. Dia adalah anak dari Patih Mandara. Saat itu ayahnya menyepi menjadi pertapa di Pertapan Paluh Amba. Atas perintah ayahnya, Dhamar Wulan ngenger kepada pamannya, Patih Logendher. Ia dipekerjakan sebagai pekathik (orang yang pekerjaannya merawat kuda).   Anjasmara jatuh cinta kepada sepupunya tersebut. Anjasmara menjadi kekasih Dhamar Wulan.

Pada suatu malam, Ratu Ayu mendapat wangsit bahwa yang dapat mengalahkan Minak Djinggo adalah seorang pemuda tampan dari daerah Paluh Amba bernama Dhamar Wulan. Ratu Ayu memanggil Patih Logendher dan meminta mencari pemuda dalam wangsit tersebut. Patih Logendher tahu bahwa keponakannya-lah yang Ratu Ayu cari. Ratu Ayu tidak mengetahui hubungan kekeluargaan antara Patih Logendher dan Dhamar Wulan.

Anjasmara yang mengetahui kabar itu, langsung meminta menikah dengan Dhamar Wulan. Dia khawatir akan ditinggalkan oleh Dhamar Wulan jika kekasihnya itu berhasil mengalahkan Minak Djinggo dan menikah dengan Ratu Ayu.

Patih Logendher khawatir jika Dhamar Wulan mengikuti sayembara, Dhamar Wulan akan mendapatkan Ratu Ayu. Padahal Patih Logendher mengharapkan salah satu dari kedua putranya-lah yang akan bersanding dengan Ratu Ayu. Dhamar Wulan lebih sakti jika dibandingkan dengan kedua putra Patih Logendher. Akan tetapi, karena sikap hormat dan ketakutan Patih Logendher terhadap ratunya, ia terpaksa menghadapkan Dhamar Wulan kepada Ratu Ayu.

Dhamar Wulan ke Blambangan. Ia melawan Minak Djinggo. Sayangnya ia kalah karena senjata Gadha Wesi Kuning. Dhamar Wulan pingsan, Minak Djinggo meninggalkannya karena mengira Dhamar Wulan sudah mati.

Dhamar Wulan ditolong oleh Waito dan Puyengan, dua orang selir Minak Djinggo. Waito dan Puyengan jatuh hati pada Dhamar Wulan karena paras tampannya. Waito dan Puyengan ingin menikah dengan Dhamar Wulan. Dhamar Wulan mau menikah dengan mereka dengan satu syarat : memberikan Gadha Wesi Kuning milik Minak Djinggo. Syarat terpenuhi, Dhamar Wulan menikah dengan kedua selir Minak Djinggo.

Dhamar Wulan berhasil mengalahkan Minak Djinggo, ia memenggal kepala Minak Djinggo untuk diserahkan kepada Ratu Ayu. Dengan diam-diam agar tidak diketahui pesaing yang lain dalam sayembara tersebut, ia melakukan perjalanan ke Kerajaan Majapahit bersama Waito dan Puyengan dan diikuti juga oleh kedua buto Patih Blambangan sejak masa Kebo Ijo, yaitu Angkat Buto dan Kot Buto.

Patih Logendher mengetahui perjalanan tersebut, dia berbuat licik dengan mengirimkan kedua putranya untuk merebut kepala Minak Djinggo. Dhamar Wulan kalah, ia diikat dan dimasukkan ke dalam sumur. Kedua selir barunya maupun kedua patih barunya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menunggui Dhamar Wulan dari atas sumur.

Seto dan Kumithir mempersembahkan kepala Minak Djinggo kepada Ratu Ayu. Ratu Ayu tidak percaya kepada mereka berdua karena mereka berdua terkenal tidak sakti. Jadi tidak mungkin jika mereka yang mengalahkan Minak Djinggo. Ayah mereka, Patih Logendher juga hanya sekedar jabatan Patih belaka. Patih Logendher tidak dapat dipercaya. Untuk pekerjaan yang membutuhkan kepercayaan, Ratu Ayu lebih memilih memberikannya kepada Minak Koncar, salah satu Bupati di daerah Kerajaan Majapahit. Tugas yang diberikan oleh Ratu Ayu untuk mencari pemuda yang ada dalam wangsit Ratu Ayu kepada Patih Logendher hanya sekedar untuk memberi pekerjaan sebagai seorang Patih belaka. Patih Logendher tidak mengajarkan sopan santun kepada putranya. Kedua putranya juga semena-mena terhadap rakyat kecil dengan mengatas namakan anak Patih.

Dhamar Wulan akhirnya ditolong oleh ayahnya dan diberi aji-aji. Dhamar Wulan dan rombongan melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Kerajaan Majapahit. Patih Logendher yang melihat rombongan itu hampir sampai kerajaan, berusaha menghalang-halangi tetapi gagal. Dhamar Wulan berhasil menghadap Ratu Ayu. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan saksi Waito, Puyengan, Angkat Buto, dan Kot Buto.

Patih Logendher tidak mau menerima kesaksian Dhamar Wulan se-rombongan. Menurutnya, yang memberikan kepala Minak Djinggo adalah kedua putranya. Jadi, kedua putranya-lah yang seharusnya memenangkan sayembara tersebut.  Dia mengadu kekuatan antara kedua putranya dengan Dhamar Wulan.

Akhirnya, karena kedua putranya kalah dari Dhamar Wulan, Patih Logendher beserta kedua putranya meninggalkan Kerajaan Majapahit. Anjasmara tetap ikut suaminya. Ratu Ayu tahu bahwa Anjasmara adalah istri pertama Dhamar Wulan. Hadiah sayembara tetap diberikan. Dhamar Wulan bersanding dengan Ratu Ayu. Dhamar Wulan menjadi Raja Majapahit dengan Ratu Ayu sebagai permaisurinya. Patih Logendher, Seto, dan Kumithir tetap berusaha untuk mengalahkan Dhamar Wulan.

Obsesi

Mas Nawan mengatakan bahwa kethoprak Minak Djinggo ini membutuhkan banyak pemain perempuan. Beliau menawarkan kepada saya untuk setidaknya menjadi emban..

Dengan background saya yang pernah :

  • belajar karawitan selama 3 tahun (di SLTP N 4 Pakem),
  • belajar tari selama 3 tahun 8 bulan (3 tahun di SLTP N 4 Pakem dan 8 bulan di SMA N 3 Yogyakarta),
  • teater Jubah Macam Padmanaba selama 1 tahun (di SMA N 3 Yogyakarta),

saya kok lebih terobsesi untuk memerankan Anjasmara wae yo

Tapi namanya obsesi ya gpp yo… (mimpi kali yee… Hahahaha..)

About these ads

Actions

Information

3 responses

10 06 2010
maz nawan

menarik.. aku senang sekali karena kamu yang masih muda mau untuk merespon sesuatu yang bagi orang muda lainnya adalah dianggap hal yang kuno (ketoprak-kes tradisional).. ‘terlepas dari tidak bisa, akan bisa dan sudah bisa’..

ada sesuatu yang tentunya akan membuat kita – ‘kamu’ – belajar dan menjadi lebih tau dan mengerti setidaknya memahami bagaimana hidup harus dilakoni..

menjadi bekal yang luar biasa ketika kesempatan – apapun itu – dapat dipergunakan dengan baik dan bijaksana..

awal yang baik telak kamu mulai ..
semoga sukses n thanks..!

10 06 2010
maz nawan

ayo..wake up.. bangun2 dah siang.. tidur mulu.. hehe wkwkwk
– comment for ‘gala-gelo’-

12 06 2010
elisabethkurniaw

mari kita sukseskan pentas KETHOPRAK kita…^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: