Berapa Lama Lagi

31 01 2011

Berapa lama lagi Kau lupakan
Berapa lama lagi Kau palingkan
Wajah yang penuh kasih
Dari hadapanku
Berapa lama ku menanti…

Haruskah aku berkekhawatiran
Dan bersedih disepanjang hari
Pandanglah kiranya dan jawablah aku
Ya…Tuhan Pengharapanku

Buatlah mataku bercahaya
Supaya janganlah aku tertidur dan lelap
Kuatkan hatiku untuk menanti fajar
Kujelang esok dengan harapan

Yakinkan aku pada kasihMu
Pada setiaMu aku percaya
Pandanglah kiranya dan jawablah aku
Ya…Tuhan Pengharapanku

source : www.pondokrenungan.com





hening kelu jiwa

7 12 2010

di hening jiwaku,,aku bertanya “Tuhan, mengapa seperti ini?!?!”..

di dalam tanyaku,, aku berdoa “Tuhan Yesus tolong”..

di dalam doaku,,aku berharap “Tuhan, selamatkan”..

di dalam harapku,,aku beriman “Dalam Nama Yesus, aku TOLAK hal itu!!! Dalam Nama Yesus, aku PATAHkan hal itu!!!”

Dan di dalam imanku,,aku kembali HENING..

 

*ekspresionistis

~iman, harapan dan kasih..dan yang terbesar dari ketiganya adalah kasih~





Kutemukan Cinta [C. Soeliandari Retno]

5 12 2010
dedicated to some1 who I love so much…^_^

Tuhan hidup ini TAK slalu mudah
Berbatu TERJAL dan penuh LIKU
Terkadang terluka dan menderita
Namun akan TETAP ku jalani

Badai guntur kan kuhadapi
Jurang tebing kurayapi
Duka lara pun KUALAMI
Demi meraih apa yang kucari

Gunungpun kan kudaki, lautkan kusebrangi
Jalan berliku kutelusuri
Apapun yang terjadi, aku TAK KAN BERHENTI
Bila disana KUTEMUKAN CINTA

Ku tak slalu mampu tuk mengasihi
Bila dibenci dan disakiti
Meski lemah dan tak berdaya jiwa
Namun akan tetap KUJALANI

Badai guntur kan kuhadapi
Jurang tebing kurayapi
Duka lara pun KUALAMI
Demi meraih apa yang kucari

Gunungpun kan kudaki, lautkan kusebrangi
Jalan berliku kutelusuri
Apapun yang terjadi, aku TAK KAN BERHENTI
Bila disana KUTEMUKAN CINTA

Bila di sana KUTEMUKAN CINTA……





Mobile Media Application Programming Interface (MMAPI) J2ME : Audio Midlet dengan pause Command, stop Command, dan looping player

28 11 2010

Pernah dengar MMAPI??
Itu lho, API yang memfasilitasi pembuatan nada, memainkan serta merekam audio dan video pada device yang cocok.

Memainkan atau merekam sebuah media ditangani oleh dua object : DataSource dan Player.

DataSource menangani detail cara mendapatkan data dari source yang tersedia. Source dapat berasal dari file JAR atau jaringan (melalui protokol HTTP), record dari RMS, streaming connection dari sebuah server atau sumber properietary lain. Player tidak perlu terlalu mempermasalahkan darimana data berasal atau bagaimana cara mendapatkannya. Player hanya perlu membaca data yang berasal dari DataSource, memproses, menampilkan dan memainkan playback media pada output device. Pihak ketiga dalam skenario ini adalah Manager. Manager membuat Player dari DataSource. Manager memiliki method untuk membuat Player dari lokasi sumber media (URL), DataSource dan InputStreams.

Kita dapat memainkan media yang berasal dari file JAR dengan membuat Stream dari resource file dan meneruskannya pada method Manager.createPlayer()

Untuk mem-PAUSE player, kita  memanggil method player.stop();

Untuk men-STOP player, kita memanggil method player.close();

Berikut code lengkapnya :
(setelah itu silakan coba di handphone yang mendukung Java ya… ^_^v)

 

import javax.microedition.midlet.*;
import javax.microedition.lcdui.*;
import javax.microedition.media.*;
import javax.microedition.media.control.*;
import java.io.*;

/**

* @author Elisabeth Kurnia Wijayanti

*/

public class AudioMidlet extends MIDlet implements CommandListener{

private Command exitCommand, playCommand, pauseCommand, stopCommand;

private Form form;

private Gauge volumeGauge;

private Display display;

private int volume = 100;

private static int MAX_VOLUME = 100;

Player player;

public AudioMidlet() {

playCommand = new Command(“Play”, Command.ITEM, 1);

exitCommand = new Command(“Exit”, Command.EXIT, 1);

pauseCommand = new Command(“Pause”, Command.ITEM,1);

stopCommand = new Command(“Stop”, Command.STOP,1);

volumeGauge = new Gauge(“Volume”, true, MAX_VOLUME, volume);

form = new Form(“Audio Player”);

form.addCommand(playCommand);

form.addCommand(exitCommand);

form.addCommand(pauseCommand);

form.addCommand(stopCommand);

form.append(volumeGauge);

}

public void startApp() {

display = Display.getDisplay(this);

form.setCommandListener(this);

display.setCurrent(form);

}

public void pauseApp() {

// pause the player

try {

if(player != null) player.stop();

} catch(Exception ex) {}

}

public void destroyApp(boolean unconditional) {

if(player != null) player.close(); // close the player

}

public void commandAction(Command c, Displayable d) {

if (c == exitCommand) {

notifyDestroyed();

}else if (c == playCommand){

try {

InputStream stream = getClass().

getResourceAsStream(“bong.wav”);

player = Manager.createPlayer(stream, “audio/x-wav”);

///Looping player

player.setLoopCount(-1);// play indefinitely

///end of Looping player

player.realize();

VolumeControl control = (VolumeControl)

player.getControl(“VolumeControl”);

if (control != null){

control.setLevel(volumeGauge.getValue());

}

player.start();

} catch (MediaException mex) {

display.setCurrent(new Alert(“Media Exception”, mex.getMessage(), null, AlertType.ERROR));

} catch (Exception ex){

display.setCurrent(new Alert(“Exception”, ex.getMessage(), null, AlertType.ERROR));

}

}else if (c == pauseCommand){// if pausing

try{

player.stop(); // pauses the media, note that it is called stop

}catch (Exception ex){

display.setCurrent(new Alert(“Pause Exception”, ex.getMessage(), null, AlertType.ERROR));

}

}else if (c == stopCommand){// if stopping the media play

try{

player.close();// close the player

}catch (Exception ex){

display.setCurrent(new Alert(“Stop Exception”, ex.getMessage(), null, AlertType.ERROR));

}

}

}

}

source :

JENI JARDIKNAS

www.academictutorials.com





Percaya Itu Indah

27 09 2010

Musik/Lagu : Anna
Syair : Rosedian
Arrangement : Bayu Nerviadi C., C.

Tuhan ajar kami, untuk percaya,
Saat kami, ada dalam gelombang bimbang.
Ajar kami tuk percaya, juga saat kami hanyut,
Dalam rasa takut kehilangan.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap percaya,
Juga saat, kami lemah dan tak berdaya.
Ketika cinta kami tersamar rasa cemburu,
Ragu sakit dan kecewa.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.

Tuhan ajar kami, untuk mencinta,
Ketika mencinta kami terluka.
Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami tlah habis tenaga.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami ditolak dan ditinggalkan.
Ketika cinta kami, yang telah kami tawarkan,
Terasa sia-sia.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.

source : kandangjago.web.id





Kasih Itu Mengampuni

27 09 2010

Musik/Lagu : C. Soeliandari Retno
Syair : YR. Widadaprayitna, SJ.
Arrangement : Restu G. Diarsi

1. Ampunilah aku Tuhan atas dosa yang tlah ku lakukan
Karena aku tak berbelas kasihan
Pada mereka yang minta ku maafkan

2. Sungguh sulit hati ini ‘tuk mengampuni sesama kami
Bahkan mereka yang kami cintai
Berat memaafkan yang lukai hati

3. Hati kami terslimuti oleh benci dengki iri hati
Berilah kami kasih Mu yang suci
Agar hilanglah segala rasa benci

4. Ajar kami mengasihi memaafkan dengan ikhlas hati
Agar hilang segala dendam di hati
Karena kasih Mu yang selalu mengasihi

Kasih Mu oh, Tuhan slalu mengampuni, memaafkan dengan tulus hati
Kasih Mu setia peduli menyembuhkan yang luka hati
Ajarilah kami Tuhan kasih Mu yang slalu mengampuni

Kasih Mu yang slalu mengampuni, kasih Mu yang slalu mengampuni

 

source : kandangjago.web.id

 





Cerita Minak Djinggo

8 06 2010

Cerita ini berawal dari mas Nawan yang menawarkan kepada saya untuk ikut casting main kethoprak. Saya bertanya ceritanya tentang apa, dan beliau menjawab tentang Minak Djinggo. Akhirnya karena saya sudah lupa dengan cerita kethoprak yang pernah saya tonton saat saya masih kecil tersebut, saya berusaha mencari tahu ceritanya. Yang ada dalam ingatan saya hanya dua : Bupati Blambangan itu wajahnya JELEK banget dan yang namanya Minak Djinggo itu rambutnya acak-acakan dan agak gondrong dengan wajah yang ga cakep tapi ya ga buruk-buruk amat kok.. Kalau tidak salah yang main saat itu PS Bayu po ya ??? (dah lupa je)..

Narasumber dari cerita ini adalah R.Ng Theresia Sri Katidjah (lebih dikenal sebagai Eyang Pudjodewo), beliau adalah keturunan ke-13 dari Sultan Seda Tegal Arum. Sultan Seda Tegalarum adalah salah satu putra dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Menurut R.Ng Theresia Sri Katidjah, cerita tentang Minak Djinggo merupakan salah satu cerita rakyat (folk tale, rakyat kebanyakan sudah mengetahuinya). Beliau mengatakan bahwa memang benar dulu pernah ada sosok yang bernama Minak Djinggo. Akan tetapi R.Ng Theresia Sri Katidjah belum tahu cerita Minak Djinggo yang sesungguhnya.

Lumayan lah, untuk menambah list searching teman-teman dengan keywordCerita Minak Djinggo” 

Cerita Minak Djinggo

Kabupaten Blambangan, salah satu kabupaten di daerah Majapahit dikuasai oleh seorang buto bernama Kebo Ijo. Raja Kerajaan Majapahit pada saat itu, Brawijaya VII akhirnya membuat sayembara : barang siapa yang dapat mengalahkan Kebo Ijo, akan dinikahkan dengan puteri raja yang cantik jelita bernama Ratu Ayu.

Ada seorang pemuda berparas tampan yang bernama Raden Umbaran, putra dari Begawan Pamengger. Dia mengikuti sayembara ini. Atas saran ayahnya, Raden Umbaran mendatangi Kabupaten Blambangan dan ngenger (bekerja menjadi pembantu/ pesuruh tanpa digaji) kepada Kebo Ijo. Semakin lama, Raden Umbaran semakin mengetahui kelemahan Kebo Ijo. Pada suatu hari, Raden Umbaran melawan Kebo Ijo. Dia diinjak-injak oleh Kebo Ijo. Parasnya yang rupawan menjadi hancur berantakan, akan tetapi dia akhirnya menang karena aji-aji (kekuatan agar sakti) yang didapat dari ayahnya. Senjata sakti  milik Kebo Ijo, Gadha Wesi Kuning, kini berpindah tangan menjadi milik Raden Umbaran.

Raden Umbaran kembali ke Kerajaan Majapahit untuk menagih janji untuk menikah dengan Ratu Ayu. Namun, Ratu Ayu tidak mau menikah dengan Raden Umbaran karena Raden Umbaran buruk rupa. Raden Umbaran kembali ke Blambangan untuk menggantikan tahta Kebo Ijo yang sudah dikalahkannya. Ia berganti nama menjadi Minak Djinggo. Ia melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Majapahit karena sakit hati atas ingkar janji tersebut.

Ratu Ayu naik tahta menggantikan ayahnya. Dia mengadakan sayembara : barang siapa yang dapat mengalahkan Minak Djinggo, akan menikah dengan dirinya. Ranggalawe, seorang Bupati dari Tuban mengikuti sayembara itu. Ranggalawe kalah, dia meninggal dunia dengan meninggalkan seorang permaisuri yang cantik dan beberapa selirnya.

Ratu Ayu mempunyai seorang patih bernama Patih Logendher. Patih Logendher adalah adik dari Patih Mandara yang menjabat pada masa Brawijaya VII. Patih Logendher mempunyai 3 (tiga) orang putra, 2 orang putra tampan yaitu Seto dan Kumithir, serta seorang putri cantik bernama Anjasmara.

Ada seorang pemuda tampan bernama Dhamar Wulan. Dia adalah anak dari Patih Mandara. Saat itu ayahnya menyepi menjadi pertapa di Pertapan Paluh Amba. Atas perintah ayahnya, Dhamar Wulan ngenger kepada pamannya, Patih Logendher. Ia dipekerjakan sebagai pekathik (orang yang pekerjaannya merawat kuda).   Anjasmara jatuh cinta kepada sepupunya tersebut. Anjasmara menjadi kekasih Dhamar Wulan.

Pada suatu malam, Ratu Ayu mendapat wangsit bahwa yang dapat mengalahkan Minak Djinggo adalah seorang pemuda tampan dari daerah Paluh Amba bernama Dhamar Wulan. Ratu Ayu memanggil Patih Logendher dan meminta mencari pemuda dalam wangsit tersebut. Patih Logendher tahu bahwa keponakannya-lah yang Ratu Ayu cari. Ratu Ayu tidak mengetahui hubungan kekeluargaan antara Patih Logendher dan Dhamar Wulan.

Anjasmara yang mengetahui kabar itu, langsung meminta menikah dengan Dhamar Wulan. Dia khawatir akan ditinggalkan oleh Dhamar Wulan jika kekasihnya itu berhasil mengalahkan Minak Djinggo dan menikah dengan Ratu Ayu.

Patih Logendher khawatir jika Dhamar Wulan mengikuti sayembara, Dhamar Wulan akan mendapatkan Ratu Ayu. Padahal Patih Logendher mengharapkan salah satu dari kedua putranya-lah yang akan bersanding dengan Ratu Ayu. Dhamar Wulan lebih sakti jika dibandingkan dengan kedua putra Patih Logendher. Akan tetapi, karena sikap hormat dan ketakutan Patih Logendher terhadap ratunya, ia terpaksa menghadapkan Dhamar Wulan kepada Ratu Ayu.

Dhamar Wulan ke Blambangan. Ia melawan Minak Djinggo. Sayangnya ia kalah karena senjata Gadha Wesi Kuning. Dhamar Wulan pingsan, Minak Djinggo meninggalkannya karena mengira Dhamar Wulan sudah mati.

Dhamar Wulan ditolong oleh Waito dan Puyengan, dua orang selir Minak Djinggo. Waito dan Puyengan jatuh hati pada Dhamar Wulan karena paras tampannya. Waito dan Puyengan ingin menikah dengan Dhamar Wulan. Dhamar Wulan mau menikah dengan mereka dengan satu syarat : memberikan Gadha Wesi Kuning milik Minak Djinggo. Syarat terpenuhi, Dhamar Wulan menikah dengan kedua selir Minak Djinggo.

Dhamar Wulan berhasil mengalahkan Minak Djinggo, ia memenggal kepala Minak Djinggo untuk diserahkan kepada Ratu Ayu. Dengan diam-diam agar tidak diketahui pesaing yang lain dalam sayembara tersebut, ia melakukan perjalanan ke Kerajaan Majapahit bersama Waito dan Puyengan dan diikuti juga oleh kedua buto Patih Blambangan sejak masa Kebo Ijo, yaitu Angkat Buto dan Kot Buto.

Patih Logendher mengetahui perjalanan tersebut, dia berbuat licik dengan mengirimkan kedua putranya untuk merebut kepala Minak Djinggo. Dhamar Wulan kalah, ia diikat dan dimasukkan ke dalam sumur. Kedua selir barunya maupun kedua patih barunya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menunggui Dhamar Wulan dari atas sumur.

Seto dan Kumithir mempersembahkan kepala Minak Djinggo kepada Ratu Ayu. Ratu Ayu tidak percaya kepada mereka berdua karena mereka berdua terkenal tidak sakti. Jadi tidak mungkin jika mereka yang mengalahkan Minak Djinggo. Ayah mereka, Patih Logendher juga hanya sekedar jabatan Patih belaka. Patih Logendher tidak dapat dipercaya. Untuk pekerjaan yang membutuhkan kepercayaan, Ratu Ayu lebih memilih memberikannya kepada Minak Koncar, salah satu Bupati di daerah Kerajaan Majapahit. Tugas yang diberikan oleh Ratu Ayu untuk mencari pemuda yang ada dalam wangsit Ratu Ayu kepada Patih Logendher hanya sekedar untuk memberi pekerjaan sebagai seorang Patih belaka. Patih Logendher tidak mengajarkan sopan santun kepada putranya. Kedua putranya juga semena-mena terhadap rakyat kecil dengan mengatas namakan anak Patih.

Dhamar Wulan akhirnya ditolong oleh ayahnya dan diberi aji-aji. Dhamar Wulan dan rombongan melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Kerajaan Majapahit. Patih Logendher yang melihat rombongan itu hampir sampai kerajaan, berusaha menghalang-halangi tetapi gagal. Dhamar Wulan berhasil menghadap Ratu Ayu. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan saksi Waito, Puyengan, Angkat Buto, dan Kot Buto.

Patih Logendher tidak mau menerima kesaksian Dhamar Wulan se-rombongan. Menurutnya, yang memberikan kepala Minak Djinggo adalah kedua putranya. Jadi, kedua putranya-lah yang seharusnya memenangkan sayembara tersebut.  Dia mengadu kekuatan antara kedua putranya dengan Dhamar Wulan.

Akhirnya, karena kedua putranya kalah dari Dhamar Wulan, Patih Logendher beserta kedua putranya meninggalkan Kerajaan Majapahit. Anjasmara tetap ikut suaminya. Ratu Ayu tahu bahwa Anjasmara adalah istri pertama Dhamar Wulan. Hadiah sayembara tetap diberikan. Dhamar Wulan bersanding dengan Ratu Ayu. Dhamar Wulan menjadi Raja Majapahit dengan Ratu Ayu sebagai permaisurinya. Patih Logendher, Seto, dan Kumithir tetap berusaha untuk mengalahkan Dhamar Wulan.

Obsesi

Mas Nawan mengatakan bahwa kethoprak Minak Djinggo ini membutuhkan banyak pemain perempuan. Beliau menawarkan kepada saya untuk setidaknya menjadi emban..

Dengan background saya yang pernah :

  • belajar karawitan selama 3 tahun (di SLTP N 4 Pakem),
  • belajar tari selama 3 tahun 8 bulan (3 tahun di SLTP N 4 Pakem dan 8 bulan di SMA N 3 Yogyakarta),
  • teater Jubah Macam Padmanaba selama 1 tahun (di SMA N 3 Yogyakarta),

saya kok lebih terobsesi untuk memerankan Anjasmara wae yo

Tapi namanya obsesi ya gpp yo… (mimpi kali yee… Hahahaha..)





piala nikah bergilir (part 2)

7 06 2010

Yeah, cerita bersambung kembali hadir…. 

Giliran kedua jatuh pada Mario. Dia menikah dengan Jo, sesama Sarjana Arsitek. Berawal dari teman satu SMA, lalu teman satu Fakultas…dan akhirnya menjadi teman sehidup semati

Congratz ya Mario..^_^

Mereka menikah pada tanggal 27 Februari 2010, dilanjutkan dengan bulan madu selama satu minggu di Pulau Dewata, Bali. Walimahan bersama teman-teman SMA, teman-teman kampus, dan rekan-rekan kerja baru dapat dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2010 di Dixie, Jalan Affandi (lebih dikenal sebagai Jalan Gejayan).

Sama-sama lulusan Arsitek, bersama sang istri mereka berdua sudah berhasil menciptakan rumah idaman. Penasaran seperti apa ya rumah anak-anak Arsi itu??? he3

Hmm, lulus sarjana, kerja, buat rumah, nikah muda (21 tahun euy..)…salut de untuk adik yang satu ini ^_^

Langgeng ya…





Tuhan kirim kamu [Aby]

15 05 2009
Tuhan kirim kau ke sini
Untuk kucintai
Untuk menemani hidupku

Tuhan beri kau untukku
Bintang yg kucari
Yang tlah hilang oleh waktu

Saat hidup tak menentu
Tak tentu arah tujuan
Kau datang
Kau tunjukkan aku

Saat harapan memudar
Anganku pun mulai hilang
Kau tetap saja membakar hatiku

Waktu fantasiku telah mati
Kau paksaku terus bermimpi

Tuhan kirim kau ke sini
Untuk kucintai
Untuk menemani hidupku

Tuhan beri kau untukku
Bintang yg kucari
Yang tlah hilang kini terang

Waktu semangatku tlah terhenti
Kau paksaku tuk terus berlari

Tuhan kirim kau ke sini
Untuk kucintai
Untuk menemani hidupku

Tuhan kiim kau untukku
Bintang yg kucari
Bintang yang tlah hilang kini terang

Tuhan beri kau untukku
Bintang yg kucari

Hmm, Q.E.D … ^_^
(lirik ini didapat dari berbagai sumber)




antara gunung Merapi dan kehidupan

8 03 2009

Saat melihat gunung Merapi berdiri dengan gagahnya di utara Yogyakarta, apa yang ada di benak teman-teman??
Decak kagum??
Kalau aku, apalagi saat awan tidak menutupi kaki Merapi, saat Merapi terlihat sangat jelas; yang ada di benakku hanya satu : “WOW, tinggi banget ya gunung ini ! !”
Lalu kata ini akan diikuti suara hatiku “ga nyangka lho, aku pernah mendaki sampai puncaknya..^_^”

Yuup, aku pernah mendaki Merapi sampai puncaknya.
Tiap ingat kejadian itu, aku mencoba mengingat kembali bagaimana mengumpulkan semangatku lagi, lagi, dan lagi.
Fisikku yang sepintas amat sangat tidak mumpuni untuk mendaki gunung ini, pernah mendaki sampai puncaknya.
Aku ingat banget, tubuh rapuhku ini ternyata bisa menjadi sumber inspirasi, sumber semangat bagi orang lain yang hampir putus asa saat mendaki gunung ini.
“Masa’ kamu kalah ma dia. Dia cewek aja bisa sampai puncak”.
Yuup, kebanyakan pendaki gunung adalah cowok, dan saat ada cowok yang hampir menyerah, teman-temannya akan menyemangatinya dengan berkata “Masa’ kalah sama cewek??”
Atau, kalo ada cewek yang mendaki gunung, kebanyakan fisik mereka lebih kuat, lebih mumpuni daripada saya; saat cewek seperti itu hampir menyerah, teman-temannya akan menyemangati dengan berkata “Masa’ kamu kalah ma cewek sekecil itu??”

Well,, aku tidak akan menyoroti kata orang-orang yang menyemangati temannya dengan kata yang terkesan meremehkanku.
(Aku ga akan marah, karena ini realita yang terjadi dalam diriku. Aku tahu kok, kalau tujuan mereka tu sebenarnya baik,,^_^)
Tuhan itu baik, aku memang sepintas tidak mumpuni, tapi aku menjadi sumber inspirasi semangat untuk orang-orang yang mumpuni, orang-orang yang lebih kuat daripada aku.

Belajarlah satu hal ini:
‘Kamu bisa mempunyai seribu kelebihan, tapi pasti ada setidaknya satu kekuranganmu..
Dan sebaliknya, kamu bisa mempunyai seribu kekurangan, tapi setidaknya ada satu kelebihanmu..’ ^_^
Saat semua yang kamu lihat hanya kekurangan, apakah kamu akan menyibukkan diri dengan kekuranganmu saja?
Apakah dengan memikirkan kekuranganmu terus-menerus, itu akan mengubah hidupmu?
Tidak, kawan..!! Kamu akan tetap kamu, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.
Jadi, mengapa tidak mencoba menerima diri sendiri (dengan segala kelebihan maupun kekurangan kita; dengan segala perubahan dalam diri kita, baik berubah menjadi lebih baik, maupun berubah menjadi lebih buruk) ?!?
Rekonsiliasilah dengan dirimu sendiri dulu kawan,, sebelum kamu bisa rekonsiliasi dengan orang lain..

Hmm,, dari pengalaman hidup, aku juga belajar satu hal lagi ni:
‘pengalaman mendaki gunung itu bukan pengalaman bagaimana caranya mendaki gunung, tapi bagaimana pengalaman batin saat mendaki gunung’.
Kalau menurutku ni ya, caranya mendaki itu juga penting lho (persipan fisik, ransel, makanan, tenda, baju hangat)..tapi itu hanya akan terasa selama mendaki dan selama pegel-pegel setelah pendakian..
Nah, kalau pengalaman batin saat mendaki, itu akan terbawa sampai kapan pun..

Hmm,, aku aja yang ga mumpuni seperti ini dulu bisa sampai puncak.
Masa’ aku sekarang mudah menyerah ?!?!
Rasanya terlalu cepat, terlalu mudah bagiku untuk menyerah sekarang..

Aku hanya mencoba meraih apa yang menurutku masih bisa kuraih,, sekalipun harapanku mulai memudar..

Mencoba tetap tersenyum sekalipun hatiku menangis keras..








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.